Tim GMRI Persiapkan Posko Negarawan Dengan Upaya Membangun Usaha Kuliner Untuk Ikut Membiayai Pesantren Baitussalam di Pamulang, Depok, Jawa Barat

PAMULANG – Diskusi dari filsafat higga motif bendera Kerajaan Majapahit yang berwarna merah-putih dan merah-putih sebanyak tujuh lapis itu juga, katz Eko Sriyanto Galgendu dipakai oleh sejumlah negara di dunia. Hingga teori dan praktek tata  kelola wira usaha kuliner serta memapar sejarah berdirinya Rumah Makan Ayam Ancur dan Soto Gubeng yang dikelola Ketua GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) serta penggagas Posko Negarawan, di Pondok Pesantren Baitussalam, Pamulang, Jawa Barat.

Ikhwal menu Ayam Ancur yang menjadi trade mark RM. Ayam Ancur dan Soto Gubeng yang berpusat di Jl. Ir. H. Juanda No. 4  dan No. 6 Jakarta Pusat, merupakan sumber dana bagi seluruh kegiatan GMRI maupun Posko Negarawan yang sudah berdiri di berbagai tempat dan daerah di Indonesia.

Kisah sukses tata kelola RM. Ayam Ancur dan Soto Gubeng hingga sukses yang tidak mem-PHK satu kayawannya itu, kata Mas Eko Sriyanto Galgendu telah mengalami pasang surut tiada mengenal lelah, karena usahanya di bidang kuliner ini pun dijalaninya dengan penuh rasa ikhlas dan jujur sehingga menjadi semacam bagaian  dari proses laku spiritual yang sudah dia tekuni sejak 26 tahun silam.

Demikian kesaksian Wowok Prastowo, asisten pribadinya yang setia itu hingga rela meninggalkan jabatan empuknya sebagai manager sebuah hotel yang terbilang mewah di Solo.

Proses pencarian dari menu kuliner yang kini telah menjadi branded andalannya kini telah menjadi menu santapan rutin dari berbagai instansi pemerintah di sekitar Istana Negara Jakarta. Dan trade mark Ayam Ancur pun diperoleh dari para pelanggan setianya yang kini terpampang jelas di kawasan elite yang dominan diminati para pejabat tinggi di negeri ini.

Syahdan, kisah sukses usaha kuliner yang diawali Eko Sriyanto Galgendu ini sejak tahun 2010 ini hanya dengan modal dasar 300 ribu rupiah dengan perkembangan awal dua puluh ekor ayam yang dapat menjadi delapan puluh porsi sajian. Sedangkan proses untuk menemukan branded Ayam Ancur justru itu baru menyusul kemudian setelah diperkukuh oleh protes sahib akrab setianya Frengky Welirang. Oleh karena produk Ayam Ancur banyak dikonsumsi oleh para pejabat di sekitar Istana, pernah disarankan agar namanya mau diubah, agar tidak mengesankan sebagai gambaran dari kehancuran negiri ino.  Jadi menurut sohibnya itu jangan sampai kenotasinya bisa mengesankan kondisi dari kehancuran negeri ini, kata Eko Sriyanto Galgendu berkisah tentang pengalamannya itu, saat memberi bimbingan pada sejumlah santri bersama Ustad Muhamad Abduh serta staf pengajar lainnya di Pesantren Bautussalam, Pondok Petir, Depok, Jawa Barat, pada 27 Desember 2022. Pelatihan memasak ini guna mempersiapkan wira usaha para santri untuk menopang biaya pengelolaan lembaga pendidikan yang selama ini beranjak dari tata kelola manajemen maupun kurikulum tradisional, sementara semangat yang diidolakan adalah lembaga pendidikan yang kelak melahirkan santri yang punya ilmu dan pengetahuan serta kemampuan  yang mumpuni dan komprehensif untuk menghadapi tantangan jaman yang terus melesat dengan teknologi modern. Karena itu basis teknologi komputer hingga penguasaan media online berikut renik pelik dari gaya dan modelnya yang semakin canggih.

Jadi begitulah, mulai dari kisah braded dari usaha kuliner miliknya yang acap disebut Ayam Ancur Pojok Istana Negara itu, hingga masalah kurikulum Pondok Pesantren jadi bagian dari topik diskusi yang hangat, seakan hendak menggedor suasa yang dingin nan sejuk yang melingkupi wilayah pesantren yang nyaman pada siang hari yang indah ini. Hingga sampai maqrib datang menjemput di bumi Pamulang, Ustad Muhamad Abduh tetap setia memandu acara silaturrahmi ini.

Sementara Eko Sriyanto Galgendu pun rampung memaparkan kerangka teori uji coba bahan baku olahan kuliner, katanya persis seperti memilih minyak goreng yang harus lewat cara mencoba 13 macam produk sampai menemukan produk pulihan terbaik. Jadi upaya untuk melakukan uji coba dalam mengembangkan kualitas mutu produk sajian dari usaha kuliner harus tekun dan gigih dilakukan,  seperti laku spiritual, tandas Ketua Umum GMRI ini.

Adapun bakat untuk menemukan hal yang baru dalam upaya mengembangkan racikan menu yang kuliner yang terunggul — sedap dan nikmat — memang sudah menjadi semacam bakat bawaan sejak lahir seperti saat  kuliah di ATMI Solo. Begitu juga dengan gairah dan semangat menjadi motor penggerak utama gerakan kebangkitan dan kesadaran spiritual, persis seperti kegairahan menemukan model mesin las yang mampu  menggunakan daya gerak dari accu hingga banyak diminati oleh banya pembeli pada masa itu.

Jadi naluri untuk menemukan hal-hal yang baru — inovatif –meliputi menu kuliner kata Wali Spiritual Indonesia ini, sudah dia rasakan sejak masih kuliah di ATMI Solo. Pengakuan ini dia akui pada sessi praktek dalam mengolah serta memasak di Pesantren Baitussalam, Pondok Petir, Pamulang, Depok, Bogor, Selasa, 27 Desember 2022.

Topik diskusi soal  lokasi tempat usaha pun dipapar  oleh Eko Sriyanto Galgendu akan sangat menentukan pula keberhasilan dari usaha kuliner seperti posisi RM. Ayam Ancur dan Soto Gubeng yang berada dalam lingkaran satu dari pusat kekuasaan Pemerintahan di Republik ini. Dan kisah usahanya ini merupakan bagian dari materi pembinaan usaha bagi sahabat dan kerabat GMRI di Pondok Pesantren yang telah siap bergabung menjadi bagian dar GMRI dengan membangun Posko Negarawan yang akan segera diresmikan segera di Pondok Pesantren Baitussalam  yang berada dibawah Yayasan Zahrah Insani, sebagai wakaf dari keluarga besar Haji Abdus Salam  Mannan bin Daeng Jarre pada tahun 2018 yang baru dioperasikan  pada tahun 2019 hingga resmi jadi pesantren tahun 2020. Sampi hari ini,  sekarang pesantren sudah memiliki 28 orang santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam kesimpulan akhir paparannya, tansas Eko Sriyanto Galgendu sikap jujur dan terbuka dalam mengelola usaha kuliner menjadi syarat yang wajib, karena sangat diperlukan dan penting dilakukan, sehingga dapat menjadi sikap dalam memberi pelayanan kepada para pelanggan, supaya tidak kapok untuk kembali datang menikmati kuliner yang kita sajikan, tandasnya.

Upaya pencarian menu sajian unggulan RM. Ayam Ancur justru sampai delapan kali dia lakukan uji coba hingga menjadi menu unggulan usaha kuliner yang wah untuk memanjakan selera pelanggan.

Sementara untuk Soto Gubeng, uji coba yang dilakukan, kata Wali Spiritual dan Presiden Perhimounan Yoga Dunia ini  sampai lima belas kali harus dilakukan sampai menemukan menunya yang pas dan joss membuat kangen  selera pelanggan.

Dahulu, kata Eko Sriyanto Galgendu saat memulai usaha kuliner cuma dengan modal 300 ribu rupiah. Usaha rumah makan ini membuktikan kegigihan menekuni sejak tahun 2013 setelah didesak Jendral George Toisuta untuk memilih bidang pekerjaan, ikut di dalam birokrasi  atau tetap berkukuh memilih usaha sendiri.

Dan pilihan sikap Eko Sriyanto Galgendu dalam posisi sebagai Penasehat  Kasad (Kepala Staf Angkatan Darat) semasa Goerge Toisuta, tetap bersikukuh pada pilihan bebasnya yang tidak ingin terikat atau terganntung pada sipapun.

Sikap yang kukuh ini nyaris sama dengan dengan sikap sahabat dan kerabat GMRI yang juga menduduki posisi sebagai Dewan Pengarah GMRI — karena beliau memang sebagai salah satu pendiri GMRI — yaitui Prof. Dr (HC) KH. Habib Chirzin yang tidak pernah mau terikat oleh pekerjaan apapun dengan pihak lain.

Agaknya kesamaan sikap itu yang juga mempertemukan Eko Sriyanto Galgendu segenap pengurus Pesantren Baitussalam yang senapas untuk mengembangkan lembaga pendidikan secara mandiri yang berada dibawah Yayasan Zahrah Ihsanil Amal pimpinan almukarom Ustad  Syaifudin yang ikut mendampingi Ustad Muhamad Abduh hingga penghujung acara berakhir.

 

 

Penulis : Jacob Ereste