Refleksi Tutup Tahun GMRI & Posko Negarawan Memasuki Tahun Penuh Harapan

BEKASI – Mengapa UUD 1945 tidak hendak dibicarakan sekarang — kecuali setelah Pilpres 2024 — kata Eko Sriyanto Galgendu membuka acara refleksi akhir tahun 2022, karena dia tidak mau memberi celah sekecil apapun untuk dipiuhkan — memberi peluang untuk menunda Pemilu, dekrit Presiden maupun perpanjangan  masa jabatan Presiden, katanya sambil membakar ikan di kediaman Prof. Yudhie Hatyono di kawasan Bekasi, pada 31 Desember 2022.

Menyambut detik pergantian tahun 2022-2023 yang dihadiri sahabat dan kerabat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Imdonesia) do’a yang dipimpin langsung oleh Eko Sriysnto Galgendu dinarasikan dalam bahasa langit komplit dengan  terjemahannya. Adapun harapan dari kawan-kawan ikhwal dari makna bakar membakar panganan — entah apa saja itu bentuknya adalah untuk memasuki tahun baru — hanya untuk menetapkan segenap keputuasaan gunau membenahi kehidupan bangsa dan negara agar  tidak ambruk.

Dalam perspektif spiritual tidak pernah berharap mencari kesempatan, apalagi hendak menciptakan kesempatan agar bisa mendapatkan keuntungan semata. Sebab orang spiritual selalu percaya pada kesempatan akan datang sendiri jika semua pekerjaan itu dilakukan secara ikhlas,  jujur dan untuk kepentingan orang banyak tandas Eko Sriyanto yang acap disebut sebagai wali spiritual Indonesia.

Acara bakar membakar ikan, udang dan jagung serta panganan lainnya itu juga sebagai evaluasi dari langkah strategis maupun taktis GMRI dan Posko Negarawan yang sudah semakin berkecanbah di berbagai tempat dan daerah untuk membakar semua hal yang tidak baik guna membangun kesadaran spiritual guna melahirkan negarawan-negarawan tangguh untuk menyelamatkan bangsa dan negara, agar tidak semakin sesat dan hancur oleh para pengkhianat  bangsa dan negara yang berkewajiban mewujudkan cita-cita kemerdekaan. 17 Agustus 1945 dan Falsafah bangsa serta ideoligi negara, yaitu Pancasila.

Pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) itu jelas doktrim memiliki kebangsaan dan negarawan seperti terpampangnya sejumlah patung sosok pejuang, bahkan nama gedung dan komplek perkantoran di AKABRI. Sementara di

hampir semua perguruan tinggi umum di Indonesia nyaris tidak ada doktrin sehebat itu. Maka  ketika terjadi pengkhianatan atau tindak kejahatan yang dilakukan oleh kedua sigmen itu, nilai moralnya jadi berbeda, urai Prof. Yudhie Haryono dalam diskusi santai menjelang pagi di awal tahun ini.

Yang hilang bukan hanya hak atas tanah dan air serta seisi bumi Indonesia, tapi juga potensi udara (dirgantara) kata Prof. Yudhie Haryono pada paparannya menyambut pergantian tahun di kediamannya, Bekasi.

Informasi dari nara sumber lain yang sangat bisa dipercaya bahwa duit yang menguap dari hasil  kedirgaantaraannmilik Indonesia itu setidaknya sejak tahun 2002 sampai sekarang tak jelas rimbanya. Jadi pemasukan dari kedirgantaraan ini perlu diusut dan dikembalikan kepada negara, agar bisa dinikmati juga oleh rakyat.

Informasi dari nara sumber lain yang sangat bisa dipercaya bahwa  duit yang menguap dari kedirgaantaraan Indonesia setidaknya sejak tahun 2002 sampai sekarang tak jelas rimbanya. Jadi perlu diusut dan dikembalikan kepada negara, agar bisa dinikmati juga oleh rakyat.

Sebab bila tata kelola pemerintah bisa dilakukan dengan baik dan sehat, maka setiap orang do Indonesia bisa mendapat pembagian 120 juta rupiah per orang. Jadi, kalau pun di korup 50 persen, toh rakyat masih kebagian 60 juta rupiah setiap bulan.

Pada jaman kejayaan Majapahit yang mampu menyatukan dua agama — Hindu dan Bhuda — penghasilan rakyat per hari ketika itu nilainya 150 kologram beras. Jadi kalau dikonversi dengan nilai uang hari ini minimal 1.200 ribu rupiah sampai 1.800 ribu rupiah. Sedangkan UMR (Upah Mimimum Regional) kaum buruh yang sudah diklaim sejahtera itu cuma dapat take home pay tak lebih dari lima ribu rupiah atau paling banyak sepuluh ribu rupiah per hari.

Jadi itulah diantaranya krisis spiritual yang berdampak langsung pada tatanan ekonomi dan politik di negeri ini. Karena krisis spiritual sudah mentok pada titik nadir yang gawat.

Simbolika dari lonceng perubahan tahun ini terhimpunnya banyak energi positif yang akan membuat frekuensi luar biasa mampu mendorong arus balik perubahan yang menciptakan  peradaban baru, kata Apek dari Posko Negarawan Jakarta Utara yang ikut hadir dalam renungan akhir tahun Masehi ini.

Disambutnya Posko Negarawan yang sudah muncul di berbagai tempat dan daerah, boleh jadi merupakan tanda-tanda perubahan untuk memasuki peradaban baru yang lebih beradab mulai memutik di Indonesia untuk kemudian dapat diharap menjadi mercu suar dunia, kata Apek meyakinkan pada sahabat dan kerabat GMRI dan relawan Posko Negarawan yang hadir di acara tutup tahun kemarin di Bekasi ini.

 

 

Penulis : Jacob Ereste