Pemerintah Dukung Upaya Optimalisasi Pengelolaan Sampah

JAKARTA – Telah dilaksanakan penandatanganan kerjasama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Badung, Bali bersama dengan Yayasan Delterra Indonesia (Delterra) terkait pengoptimalan pengelolaan sampah yang lebih dekat ke sumber.

Upaya tersebut mendapatkan apreasiasi dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi yang disampaikan oleh Asisten Deputi (Asdep) Pengelolaan Sampah dan Limbah, Rofi Alhanif dalam rangkaian acara “Beating Plastic Pollution from Source to Sea” di Bali, Kamis (03-11-2022).

Asdep Rofi menyampaikan, kesepakatan ini memberikan solusi terukur untuk masalah sampah dengan mentransformasikan sistem pengelolaan sampah terpadu dari hulu ke hilir.

Selain itu, hal ini menjadi bagian upaya pemerintah dalam penetapan Bali sebagai lokasi prioritas dalam penanganan sampah, termasuk didalamnya sampah laut.

“Bali menjadi kawasan prioritas karena memiliki nilai strategis dari letak provinsinya, pariwisatanya dan sebagainya. Bukan hanya itu, kami juga menargetkan untuk mencapai nol emisi gas pada tahun 2040. Dimana salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca adalah sampah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Asdep Rofi menjelaskan bahwa saat ini telah diinisiasi pembangunan infrasuktur pengelolaan sampah (TPST) di Badung dan Denpasar. Dengan menerapkan prinsip pengolahaan sampah secara terpadu dari hulu ke hilir hingga mendapatkan manfaat ulang (sirukular ekonomi). Mengenai hal ini, dia berharap keterlibatan aktif masyarakat.

“Kami mengapresiasi Delterra karena sudah membantu masyarakat dalam mengelola beberapa Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS-3R) di Bali. Penguatan sistem pengelolaan sampah yang lebih dekat dari sumber ini diharapkan dapat mendapatkan nilai ekonomi dari sampah dan menciptakan lapangan kerja baru untuk masyarakat sekitar,” ungkapnya.

“Saya mendukung upaya kolaboratif multipihak dalam pengelolaan sampah yang dilakukan oleh pemerintah daerah Provinsi Bali dan Delterra dalam mewujudkan transformasi sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dimulai dari Bali menuju Indonesia yang lebih sirkular,” tambahnya.

Menambahkan Asdep Rofi, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Bali, I Made Teja berharap dengan adanya kerja sama ini menjadi model perubahan pradigma masyarakat dari skema kumpul-angkut-buang menjadi skema pengelolaan terpadu dari hulu ke hilir.

“Hal ini tentunya perlu koordinasi yang baik dengan kepala desa, camat terutama masyarakat. Kami sangat mendukung program ini, sehingga harapan kami pencemaran emisi di Bali ini dapat diturunkan terlebih dahulu,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Presiden & CEO Delterra Shannon Bouton, mangatakan bahwa kerjasama ini merupakan hal yang sangat penting dalam mentransformasi upaya pengelolaan sampah yang lebih baik.

“Bukan hanya itu, kami juga sangat senang menyambut Minderoo Foundation dan WWF Indonesia sebagai mitra konsorsium, yang secara efektif bergabung untuk mendapatkan solusi yang ambisius ini,” ungkapnya.

Tony Worby, Direktur Planet Portfolio & Flourishing Oceans di Minderoo Foundation mengatakan, misi Minderoo Foundation adalah dunia tanpa sampah plastik.

“Kami berharap akan terwujud prinsip sirkuler ekonomi yang berkelanjutan, di mana prioritas kami adalah keselamatan dalam produksi, penggunaan, dan daur ulang plastik yang bertanggungjawab,” ujarnya.

Selanjutnya, Aditya Bayunanda selaku CEO WWF Indonesia mengatakan bahwa melalui sistem pengelolaan sampah terpadu, “No Plastic in Nature Initiative” WWF Indonesia bekerja di seluruh siklus hidup plastik untuk meningkatkan penggunaan kembali plastik yang sudah beredar dan mengeliminasi polusi plastik ke alam.

“Untuk itu kami bersemangat untuk melaksanakan kerja sama ini. Sekaligus bersama-sama meningkatkan kerjasama multipihak,” pungkasnya.