Mulai Dari Manajemen Wangsit Hingga Model Trikameral Tata Kelola Negara Kita Dibedah di Forum Posko Negarawan

JAKARTA – Pemahaman kontekstual yang dibelengu oleh pemahaman tekstual, perlu dibuka agar dapat leluasa melakukan pengembaraan intelektual guna mencapai ladang spiritual yang subur dan maha luas, karena untuk mencapai ladang spiritual yang sangat indah itu tidak bisa tergapai oleh puncak pemahaman intelektual manusia semata Demikian intro diskusi rutin internal GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesua) dan Posko Negarawan yang dibuka oleh Eko Sriyanto Galgendu di Sekretariat Jl. Ir. H. Juanda No. 4 Jakarta Pusat, Kamis 5 Januari 2023 sekalian membahas dan memantapkan sejumlah program prioritas yang akan segera dilakukan dalam waktu dekat.

Hadir diantaranya Prof. Yudhie Haryono, Joyo Suwantoro, Setiyo Wibowo bersama relawan yang siap bergabung untuk memperkuat perjuangan GMRI dan Posko Negarawan guna membuka cakrawala indah masa depan bangsa dan negara yang nyaris ambruk dan bagkrut sekarang ini.

Lalu memasuki sessi diskusi yang agak lebih serius dengan prolog dari Prof. Yudhie Haryono memapar nasib masyarakat yang sangau tergantung diantaranya pada agama, pasar dan pemerintah. Maka itu urgensi utusan golongan dalam kanfigurasi dari trikameral atau tata kelola khas negara Indonesia yang telah menjadi kesepakatan perlu dibahas secara serius pada forum yang lebih serius untuk bisa disepakati menjadi pakem rujukan harus segera dimulai secara bertahap dengan diawali pada 15 Januari 2023 di Bogor.

Telaah kritis terhadap lembaga DPA dan DPD RI dalam konfigurasi tata kelola negara Indonesia telah menggradasi kedua instansi atau lembaga tersebut. Karenanya perlu segera ditelaah ulang.

Semua itu, kata Prof. Yudhie perlu dilakukan oleh GMRI dan Posko Negarawan untuk melanjutkan upaya persemaian intelektual yang harus dilakukan oleh Posko Negarawan sebagai perpanjangan tangan dari GMRI.

Topik tentang manajemen wangsit yang telah mengawali topik diskusi sebelumnya, kembali mencuat menjadi tajuk bincang forum yang gayeng dan las-lasan berlangsung gaya khas Mataraman dan riuh ditimpali gaya obrolan aktivis tahun 1980-an yang segar serta menggairahkan

Realitas dari apa yang dimaksud oleh manajemen wangsit itu, diakui oleh Eko Sriyanto Galgendu, tanpa sanggahan atas kesaksian Wowok Prastowo sebagai staf sekaligus sosok pendamping setianya sejak 30 tahun silam. Kesaksian ini dia ungkap saat menyantap bubur ayam yang gurih di bilangan Kemayoran — dan laku spiritual Wowok Prastowo sendiri ternyata tidak kalah “gila” dengan kegilaan Eko Sryanto Galgendu. Karena nyalinya untuk meninggalkan jabatan Manajer Hotel mewah, dilakukan Wowok dengan kesadaran serta kerelaan pada 30 tahun silam itu dengan akad tanpa syarat mendampingi Eko Sriyanto Galgendu sampai hari ini.

Menurut Wowok Prastowo, kedegilannya mengikuti laku spiritual bersamz Eko Sriyanto Galgendu, karena mendapat bisikan gaib pula, seperti yang dialami wali spiritual Indonesia ini.

Pendek cerita, keyakinan Eko Sriyanto Galgendu pada semua yang dilakukan tetap tidak terlepas dari campur tangan Tuhan yang tidak bisa diabaikan. Kesaksian serupa diakui juga oleh Burhan, sohib akrabnya yang mengatakan, apa yang dilakukan Eko Sriyanto Galgendu selalu dalam bentuk ziarah — yang bisa dipahami dengan pengertian silaturrachmi, tausiah — membangun hubungan kemanusiaan agar dapat lebih beradab.

Karena itu, sering sekali terjadi secara menakjubkan dalam berbagai bentuk usaha yang ditawarkan dan sangat menggiurkan dalam perspektif ekonomi, tetapi karena tidak memiliki keterkaitan dengan getaran jiwanya, selalu Eko Sriyanto Galgendu tolak dengan cara yang santun, seperti tawaran jabatan empuk dari Jendral Goerge Toysuta — yang pernah memposisikannya sebagai Penasehat Kasad, pun dia tampik dengan cara yang halus

Dalam usaha kulinernya yang terbilang sukses dengan merk dagang “Ayam Ancur” dan “Soto Gubeng” serta “Sate Khas Bumbu Solo”di bilangan pojok Israna Negara Jakarta ini, dia pun jujur mengaku merujuk pada manajemen Bakso Lapangan Tembak Senayan sebagai referensi usahanya yang kini menjadi konsumsi rutin kalangan kementerian maupun Mabesad.

Usaha kuliner Bakso Lapangan Tembak Senayan itu, kata Eko Sriyanto Galgendu berkisah, hanya dalam waktu dua tahun mampu membuat 120 counter. Artinya, usaha kuliner sungguh sangat menjanjikan untuk ditekuni dan memberi jaminan masa depan yang cerah. Setidaknya bisa lebih gampang menghindar dari prilaku korup yang menjadi kegandrungan pejabat negara Indonesia sekarang.

Dan sebagai sahabat pemilik Bakso Lapangan Tembak Senayan, dia juga menimba ilmu bisnis kuliner dengan spirit tata kelola Bakso Lapangan Tembak Senayan, hingga semakin yakin dengan managemen wangsit atau manajemen yang muncul dari ranah spiritual itu seperti yang diungkapkan oleh Wowok Pranowo, staf khususnya yang setia mendampingi sepanjang jalan pengembaraan spiritual hingga tercatat telah mengujungi semua makam para leluhur di Nuntara ini yang terbilang suksus usaha kulinernya hingga kini mulai mulai mengetuk gerbang pesantren dengan spirit ingin berbagi dan partipasi, tidak samasekali berorientasi keuntungan material, tapi semata-mata nawaitunya demi dan untuk melengkapi sangu spiritual semata. Maka itu, usaha kuliner yang akan segera di lounching untuk Pesantren pada 11 Januari 2023 di “Pasar Kita” Pamulang Tangerang Selatan, pun mengusung bisikan langit yang nyata itu.

Jadi, misteri dari model manajemen wangsit atau manajemen spiritual ini pun bagi Eko Sriyanto Galgendu berasal dari petunjuk untuk berbagi nilai yang setara dengan apa yang telah diperoleh dan dinikmatinya. Seperti hasrat ingin menyumbang satu unit kandaraan ambulan, hanya dengan duit 30 juta rupiah, tetap dilakukan berdasarkan wangsit gaib itu dengan cara membeli secara kredit dan konsisten membayar ansuran satu unik ambulan itu setiap bulan sampai lunas.

 

Penulis : Jacob Ereste