Masih Terkait Malaikat Yang Murtad Menjadi Iblis Karena Ikut Dalam Tata Kelola Bangsa dan Negara Kita

BANTEN – Sejujurnya, karena masih penasaran ikhwal iblis, syetan dan malaikat yang jadi pergunjingan di negeri Pancasila yang agamis ini, semalam saya langsung menyambangi guru spiritual di padepokannya yang tak begitu jauh dari rumahku.

Aku ingin sekali mempertanyakan jika tidak bisa dikatakan konsultasi ikhwal machluk yang tidak gampang dipahami oleh manusia biasa itu. Apalagi hendak mengetahuinya secara akademis yang selalu ingin bukti nyata yang kasat mata.

Padahal, tidak semua wujud dan bentuk harus bisa dijamah fisiknya. Dan pilihanku pun menyambangi guru spiritual karena merupakan satu–satunya instansi yang masih dapat dipercaya agar tak menyesatkan. Boleh jadi bisa semakin mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa, seperti yang tertera pada falsafah bangsa dan ideologi negara yang sudah diabaikan oleh banyak orang.

Sejujurnya, saya sengaja memilih guru spiritual untuk curhat, karena pada mereka — atau kaum sufi saja — yang tidak mabuk dengan hal-hal yang duniawi. Selebihnya, instansi mana yang layak dirujuk, kalau semua telah ikut berlomba ingin maling, korup, penipu, khiabat, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat yang wajib dan harus menyampaikan suara atau aspirasi rakyat.

Lha, membahas peraturan dan perundang-undangan saja mereka sudah berselingkuh dengan rakyat yang katanya mereka wakili.

Caratan penting ketika mengubah UUD 1945 yang dikomando Amin Rais, dan Umnibus Law itu akan menjadi cacatan sejarah terburuk yang diwariskan pada tujuh keturunan berikutnya yang tidak bisa dilupakan.

Jadi, kalau harus dikutuk, pasti suara rakyat banyak itu akan mendatangkan azab untuk tujuh anak turunan mereka. Sebab suara rakyat yang mereka tindas mutlak mewakili juga suara Tuhan.

Maka itu pilihan terbaik melakukan konsultasi atau semacam bimbingan informal pada maha guru spiritual, karena landasan pijak ilmiahnya tetap meneguhi tatanan etika, moral dan akhlak mulia yang senantiasa merujuk pada Illahi Rabbi tanpa pamrih. Bukan seperti klaim regulasi peraturan dan perjndang-undangan itu yang dominan untuk memenuhi birahi pesanan yang abad pada kepetingan orang banyak.

Begitulah essensi ketergadaian hati nurani itu di era yang semakin kacau sekarang ini. Dan upaya menemukan benteng pertahan sekaligus perlindungan dari habitat spiritual, sungguh logis. Semua bisa diuji dengan para pelaku tindak kejahatan di negeri ini yang relatif cukup — bila tak bisa dikatakan lebih ilmu dan pengetahuan bahkan kekayaan — toh ngentit juga duit rakyat, karena memang etikanya kerontang, moralitasnya kosong lantaran kepalanya penuh dengan hal-hal duniawi, hingga akhlaknya ambruk seperti rumah tua yang terurus.

Begitulah pertimbangan hati yang tulus untuk menyambangi guru spiritual yang mau membimbing semua umat dari agama apapun yang sadar bahwa manusia patut mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta jagat raya dan seisinya, sebelum Dia memutuskan kontrak sepihak yang bisa Dia buat kapanpun di bumi ini untuk dimutasi ke bagian alam yang lain.

Singkat cerita, belum lagi aku duduk di ruang tamu sang guru, dia langsung sibuk menyuguhi minuman dan panganan yang khas dia minum dan dia makan setiap hari. Tapi dia pun seperti sudah sangat paham apa yang hendak aku utarakan, sehingga sang guru langdung berceloteh tentang iblis, syetan dan malaikat yang menjadi pergunjingan di negeri kita sekarang ini.

Jadi memang menarik, katanya sosok iblis, syetan dan malaikat jadi ikut cawe-cawe dalam tata kelola pemerintahan. Sehingga sosok malaikat yang dianggap telah khianat karena masuk dalam dalam jajaran penerintah di negeri ini, jadi murtad. Artinya, sejarah dan babak baru sungguh sedang berlangsung. Setidaknya, ada pemerintahan di dunia ini yang mampu menularkan virus jahat, sehingga ada malaikat yang mampu diubah tabiatnya menjadi iblis.

Jangan-jangan, kara guru spiritual saya yang tidak kalah selera humorinya dengan Gus Dur, mungkin iblis di Indonesia itu katanya adalah sosok yang ditengarai oleh seorang Bupati yang memberang kepada Kemenkeu dulu itu.

Aku semakin terperangah dan takjub, menyimak sanepo sang guru yang sangat bijak dan kuhormati ini. Wawasannya luas, hingga mampu mengartikan maksud Gus Dur dulu yang pernah mengatakan bila DPR itu adalah taman kanak-kanak yang dia pahami masih doyan disusui.

Sampai tengah malam acara konsultadi yang kumaksud, tidak satu pun pertanyaan dapat aku ungkapkan, karena semua pertanyaan yang hendak aku tikamkan, sudah ditangkis — atau dijawab dengan telak — hingga membuat aku sungguh tak berkutik.

Apalagi kemudian — sambil berdiri untuk menghormat niat pamitanku — guru pun menasehati agar aku tidak terlalu serius ikut memikirkan tata kelola bangsa dan negara yang ambur aduk ini. Karena katanya, iti semua sudah menjadi kewajiban pemerintah yang harus mengurus semus hak-hak rakyat seperti kitz ini. Kalau pun mereka ingkar — sebagai abdi negara — itu kelak pasti ada hitungan dari Tuhan, katanya sambil tersenyum dan nenepuk-nepuk pindakku.

Entah bagaimana, sekonyong-konyong kurasakan diriku srperti ambles ditelan bumi.

Ternyata, matahari sudah menyapaku seperti kemarin. Dia pun konsisten melangkah pasti dari Timur menuju Barat sambil memancarkan kesabaran dan ketekunan yang tak pernah menyerah. Kecuali dihadapan Allah.

Rupanya hanya zikir mabukku yang sampai pada sang guru. Karena secara fisik sesungguhnya kami belum pernah berjumpa. Persis seperti perjalanan kita bersama menuju rumah Tuhan. Dan soal iblis, syetan dan malaikat itu, bagian dari otoritas Allah yang tak perlu diusik oleh manusia sekuasa apapun di dunia. Sebab itu semua, cuma akan memperluas kejumawaan saja.

 

Penulis : Jacob Ereste