Manjemen Wangsit Itu Menyadari Juga Selera Yang Tidak Bisa Dipaksakan Bagi Orang Lain

BANTEN – Pesan pengusaha kuliner yang terbilang sukses menerapkan manajemen wangsit, sungguh bermakna untuk dipatuhi oleh pengusaha binaannya yang ingin sukses.

Adalah Eko Sriyanto Galgendu  yang mempunyai hak patent manajemen wangsit itu, kata Mas Wowok Prastowo, staf khusus sekaligus assisten pribadi Eko Sriyanto Galgendu yang menumpahkan semua hasil usahanya itu untuk membiayai semua kegiatan dan aktivitas serta program GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang diwariskan oleh sejumlah tokoh nasional maupun keagamaan diantaranya adalah Gus Dur, Prof. Dr. (HC) KH. Muhamad Habib Chirzin serta Susuhunan Paku Buwono XII dan tokoh lainnya yang tertuang secara resmi dalam akte notaris sejak beberapa tahun silam.

Karena belum mendapat petunjuk atau wangsit, maka langkah nyata GMRI dalam berbagai aktivitas dan program baru dijabarkan Eko Sriyanto Galgendu  pada tiga tahun terakhir, meski laku spiritual itu telah dia lakoni sejak 30-an tahun silam.

Ikhwal manajemen wangsit yang diterapkan Eko Sriyanto Galgendu dalam usaha kulinernya yang sempat memiliki sejumlah konter dan belasan armada moko (mobil toko) dari usaha kuliner yang berpusat di Jl. Ir. H. Juanda No. 4 dan 5 Jakarta Pusat, kembali menuju puncak sukses setelah melawan covid dengan tidak mem-PHK seorang karyawan pun ketika itu.

Manajemen wangsit yang diyakini Wowok Prastowo dilakukan oleh Ketua Umum GMRI ini, ditandai oleh sejumlah uang masuk yang nyaris tidak setara dengan uang yang  dikeluarkan untuk membiaya kegiatan GMRI dan Posko Negarawan yang baru saja dirintis akhir tahun 2022 lalu, namun sudah berdiri di sejumlah tempat dan daerah. Dari perkembangan GMRI dan Posko Negarawan yang dimulai dengan sedikit orang ini — diantaranya Wowok Prastowo dan Jacob Ereste misalnya — kini telah bergabung sejumlah sahabat dan kerabat (istilah khusus bagi GMRI) makin meluas seperti relasi maupun mitra dari berbagai kalangan agamawan, kaum cerdik pandai dan seniman maupun kaum intelektual — penuh gairah untuk meyakinkan bahwa gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahanan spiritual sungguh diperlukan untuk memboboti sumber daya manusia Indonesia yang memiliki etika, moral dan akhlak mulia untuk memanusiakan manusia Indonesia agar dapat lebih dekat kepada Tuhan, kepada sesama manusia dan kepada alam lingkungan sebagai cermin dari penghayatan terhadap Sang Pencipta jagat raya dan seisinya.

Perhatian GMRI dan Posko Negarawan terhadap UMKM (Usaga Masyarakat Kecil Menengah) pun mulai diwujudkan. Dalam kerangka inilah makna dari manajemen wangsit itu semakin terkuat. Misalnta dalam tata kelola Warung Sate Ustad H. Achmad Kumis di Pasar Kura, Pamulang, Tangerang Selatan, Eko Sriyanto berpesan jangan pernah merasa puas dengan menu sajian yang disuguhkan pada pelanggan. Coba terus untuk mendengar pendapat serta kimentar pembeli untuk menu suguhan kita itu.

Boleh jadi menu makanan yang kita anggap enak itu belum tentu enak bagi pelanggaran. Toh, bantak sajian warung yang enak, rapi tidak laku.

Oleh karena itu, harus terus menerus dievaluasi, kata Eko Sriyanto Galgendu berpesan. Sebab rahasia sukses dia mengelola Rumah Makan Ayam Ancur dan Soto Gubung yang telah menjadi langganan tetap sejumlah instansi di sekitar Istana Merdeka Jakarta itu, telah mengalami belasan kali pengembangan menu hingga bermerek dan kondang sampai sekarang.

Kecuali itu, anggapan terhadap menu sajian yang dusuguhkan sudah paling enak,  itu menjebak dalam kepongahan dan kesombongan. Sementara standar ukurannya jelas, menu suguhan kita itu laku atau tidak. Sebab bisa saja menu yang sudah kita anggap enak itu tidak kaku.

Jadi enak menurutnya kita seperti itu, jangan terus dipaksakan untuk orang lain. Apalagi pelanggan harus dilayani layaknya Raja dan Ratu, papar Eko Sruyanto Galgendu seperti sedang berkelakar.

Intinya, nemaksakan selera kita untuk selera orang lain adalah egoistik, seperti penyakit kalangan aktivis. Mau paling  banyak ngomong dan selalj ingin didengarkan celitehannya, tapi tak hendek mendengar argymen atau pendapat orang lain. Karena itu wajar, suaranya yang lantang memprotes pemerintah pun tidak didengarkan juga.

 

 

Penulis : Jacob Ereste