Jacob Ereste: Tabiat Yang Sesat Dari Tuntunan dan Ajaran Para Leluhur

BANTEN – Tamak dan rakus itu bukan sekedar tabiat melahap semua makanan dan minuman belaka, tapi juga jabatan dan posisi hingga kekuasaan. Akibat terusannya dapat menjadi sangat egoistik. Dan egoistik itu sendiri adalah hasrat yang tidak terkendali untuk selalu merasa the best, hebat dan mengganggap diri lebih unggul dari orang lain.

Modelnya seperti dalam forum diskusi, selalu ingin ngomong banyak, tapi ogah mendengarkan ketika orang lain bicara. Atau tak punya etika untuk memotong omongan orang lain. Yang lebih tragis adalah sok tahu. Sehingga semua soal dan masalah dikomentarinya. Padahal, sejatinya cuma ingin selalu tampil untuk menggagahi orang lain.

Egoistis model begini dominan diunjukkan oleh kalangan aktivis. Belum lagi untuk mereka tak punya rasa malu untuk mengklaim ide atau gagasan orang lain, hingga seolah-oleh itu semua otentik ide dan gagasan yang dilahirkan oleh pemikiran dirinya dengan mengabaikan apa yang sudah dilakukan atau dirintis oleh orang lain itu.

Yang agak dominan tampak fenomenal adalah adanya kecenderungan merasa lebih hebat itu tadi, merasa lebih tahu dan lebih mengerti suatu masalah yang sesungguhnya cuma dia tahu sepotong-sepotong, namun birahinya ingin tampil dan memberi kesan bahwa dirinya menguasai serta memahami semua masalah dengan berselimut retorika kampungan, karena dia hanya ingin dianggap paham dan mengerti semua soal dan masalah yang sesungguhnya dia sendiri tidak sungguh-sungguh mengerti.

Over confident serupa ini tampaknya telah menjadi penyakit bawaan saat waktu mengikuti kaderisasi yang tidak sungguh-sungguh matang. Sebab kaderisasi yang diikutinya pun sekedar umtuk mendapat legalitas, seperti kebanyak keinginan para siswa dan mahasiswa hari ini, bahwa pendidikan yang ditenpuhnya itu bagaimana secepatnya lulus dan mebdapatkan ijazah. Katena ilmu dan pengetahuan dari lembaga pendidikan apapun tidak lagi merupakan hal yang pokok dan penting ketimbang ijazah dan legalitas dari lemnaga pendidikan.

Ibarat baru bisa mengaji satu surat dari alkitab, seakan sudah membaca suluruh isi alkitab tersebut. Bahkan dia bisa lebih mampu untuk mengesankan seperti sudah melahap habis semua isi alkitab tersebut.

Dalam konteks ini sebetulnya semua bermula dari budaya ingin pamer dan sok. Maka penampilan selalu lebih penting dari isi kepala dan hati yang seharusnya disederhanakan, sehingga sikap tulus dan ugahari bisa menjadi jati diri. Jadi kebanggaan untuk mengenakan barang maupun pakaian yang mewah telah menjadi obsesi yang laten, menelusup dibawah kesadaran yang lepas kontrol.

Masalahnya pun, sebetulnya ikut dipantik oleh cita rasa dan selera warga masyarakat pada umumnya yang terlanjur akan “kamoungan” hingga selalu terkagum-kagum pada tampilan yang wah, mewah. Seban dengan tampilan serupa itu seperti dapat dijadikan takaran baku dari derajat dan martabat diri dari yang bersangkutan.

Orang-orang kota — yang sesungguhnya masih kampungan itu — ketika mudik ke kampung pun, akan selalu dipandang oleh sanak kuarga dan seluruh famili maupun warga kampung itu dari penampilannya yang wah. Tak hanya dari merk kendaraan yang dipakai, juga gaya hidup dan sedikit royal serta hasrat untuk pamer, agar bisa menggagahi seluruh orang kampung untuk menyaksikan kejumawahan penampilannya yang norak itu.

Dari sikap tamak dan sombong serta egoistik ini umumnya terus menjalar pada etika, moral dan akhlak yang tidak terkendali dan tidak terkontrol. Akibatnya, tentu saja bukan vuma tidak punya unggah-ungguh atau tata krama dan sopan santun semata, tetapi juga rasa rendah hati yang terlanjur melambung tinggi itu sulit untuk dirundukkan.

Begirulah sikap tamak dan rakus serta egoistis yang melindas etika, moral dan akhlak yang kini telag ambruk. Semua nyaris melantak segenap warga bangsa sehingga tak lagi punya rasa malu, tidak jujur, berani maling (korupsi seperti yang terus terjadi di negeri ini) bahkan mau khianat, menjual undang-undang dan tatanan hukum yang dipesan para saudagar. Contoh nyata konstitusi kita pun sudah digadaikan. Maka itu GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) yang terus mengobarkan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual dari semua bilik agama, dari segenap penjuru profesi maupun dari segenap disiplin ilmu perlu dan harus kembali meneguhi etika bangsa dari beragam suku yang kuhur, kembali merundukkan kepala pasa tatanan moral yang adi luhung serta tuntunan dan ajaran akhlak manusia yang mulia sebagai ciptaan Tuhan di muka bumi.