Jacob Ereste: Seni Ornamen Mas’ud Pane Yang Sarat Dengan Nilai-nilai Spiritual

KEMAYORAN – Diskusi santai bersama Seniman Ornanen Indonesia Mas’ud Pane, Yusac dan Bimo di lantai II Rumah Peradaban Jl. Angkasa I No. 2 Jakarta Utara, pada hari Senin 19 Desember 2022. Topik bahasan jadi beragam soal utamanya budaya menuju peradaban baru manusia di bumi.

Ragam motif dan corak seni ornamen khas karya Mas’ud Pane menonjolkan simbolik dari hati manusia yang tercerabut dari ruh menjadi pusat perhatian terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal sifatnta itu.

Pucuk yang hilang dalam bahasa Bima tempat asal Mas’ud Pane yaitu “Duru Mambora” di inspirasi dari perenungan meletusnya Gunung Tambora pada tahun 1815 yang menghangus dan meluluh lantakkan semua yang bertumbuh untuk kemudian dapat terus berkembang. Tapi semua itu seperti sirna ditelan bumi dalam sekejap hingga menjadi catatan kenangan yang sangat membekas sampai hari ini.

Pada masa awal kariernya berseni — tahun 1980-an semasa kuliah di Yogyakarta Hadiningrat — Mas’ud Pane menekuni seni sketsa yang cukup unik dan matang lalu bergeser pada seni lukis dengan teknik atau gaya pointilis. Dan menurut Mas’ud Ompulepi demikian trade marknya pada masa awal dulu itu — dan entah bagaimana pula prosesnya hingga memakai nama Mas’ud Pane — terjesan menjadi samar-sanar persis seperti pertemuan 40 tahun selim (1982) tiba-tiba jumpa Mas’ud Pane pun sudah menekuni seni ornamen yang merangkum semua corak dan ragam dari seni ornanen Nusantara — meski beranjak secara otentik dari tanah lekuhurnya dari Bima NTB (Nusa Tenggara Barat) yang akan segera menjadi Provinsi sendiri, yaitu Provinsi Bima, kata Bimo menambahkan.

Ornamen sebagai kitab peradaban sangar sarat muatan folosifis tentang Tuhan, manusia dan alam hingga seni ornamen dapat disebut sebagai kitab kehidupan yang mencerminkan keberagaman manusia.

Bunga Stako(Bunga Sebatang) yang diornamenkan karena akan menjadi konsep terbaru ornamen Mas’ud.

Filosofis dari bunga Stako yang ajan mulai digarap Mas’ud Pane lebih lsnjut, katanya di Bima memiliki keukikan tersendiri, karena bunga Stako itu bisa tumbuh di batu cadas. Jadi sebagai simbol kekuatan dan ketegaran namun tetap lembut sebagai bungz yang indah dan menarik perhatian banyak orang.

Kusah Bimana dan adiknya Menggapodongg, sebagai latar belakang leluhur Mas’hd Pane dari trah lurus keturunan dari Kerajaan Bima yang sesungguhnya berhak sebagai ahli waris sah dari dinasty yang pernah berkuasa di Nusa Tenggara Barat, khususnya Kabupaten Bima dan sekitarnya pada masa lalu. Sedangkan Manggapodonggo sebagai pelaksana tunggal lapangan dari pihak kerajaan memiliki kisah menarik tersendiri, dimana sistem kekerabatan dari tata kelola pemerintahan di masa itu sangat harmonis dengan musyawarah mufakat untuk menjaga komplik internal tidak sampai terjadi. Karena kesadaran terhadap masalah yang lebih besar dan rumit harus diatasi secara bersama tanpa perlu menimbulkan akses buruk yang baru.

Dari latar keluarga seoerti itulah yang ikut menempa ekan vital Mas’ud Pane merambah dunia seni — termasuk interior dan desain ruangan yang ia diwjudkan disekujur bangunan Runah Peradaban yang nyaris titol dia bungkus dengan beragam tampilan seni ornamen yang unik dan khas, sehingga membangkitkan sensasi hidup yang lebih bergairah sekaligus menyejukkan hati.