Jacob Ereste: Etika, Moral dan Mental serta Akhlak Yang Buruk Dalam Perspektif Spiritual

JAKARTA – Nusantara yang telah diubah menjadi Indonesia sesungguhnya memiliki Yin dan Yang yang sangat kuat dan dakhsyat di dunia yang tidak tertanding oleh Yin dan Yang sepeeti yang dimiliki negara lain. Karena itu beragam bentuk bencana yang melanda Indonesia tetap dalam kendali yang dominan aman. Contohnya Gunung Krakatau sebagai gunung terbesar dan tertua sejak jaman Purba menjadi pusat kendali atau lebih tepat induk dari senua gunung yang ada di Jawa maupun di tempat lain telah memiliki posisi strategis, karena dikelilingi oleh laut sehingga kondisi dan situasinya menjadi cukup dingin.

Inilah satu contoh dari Yin dan Yang yang kita miliki dan mempunyai kekuatan yang maha dakhsyat, sehingga segenap penjuru negeri yang ada di Nusantara memounyai tingkat keaman yang tinggi. Meski koneksitas Gunung Krakatau mempunyai oyot sampai ke Australia. Dan semua gunung yang ada di Indonesia berada salam kendali Gunung Krakatau yang ada diantara Pulau Jawa dengan Pulau Sumatra.

Hasil kajian spiritual tentang gunung Krakatau dengan pendekatan spiritual menuju nalar — rasional atau dengan semangat akademik — bisa diterima oleh akal sehat, ilmiah.

Jadi, sekali lagi semua itu membuktikan data jelajah spiritual yang maga luas nyaris tak berbatas itu sulit dijangkau oleh akal pikiran. Karena spiritual itu senantiasa berkisar di dalam rasa, naluri serta bisikan batin dan jiwa yang tidak mampu oleh telinga orang kebanyakan. Artinya, hanya orang-orang tertentu saja — utamanta yang melakoni laku spiritual yang manpu mendengar dan menangkap makna dari bisikan tersebut.

Adapum tentang Yoga Raja yang sempat Eko Sriyanto Galgendu pada acara rekonsiliasi Majapahit dengan Pajajaran khususnya bagi Kerajaan Galuh yang diinisiasi oleh sejumlah tokoh agama dari bali di Kawali, menurut dia karena Yoga Raja yang dikuasai juga oleh Eko Sriyanto Galgendu dilakukan dengan full menggunakan soul (Jiwa) dengan cara mengosongkan pikiran sehingga gerakan tubuh berjalan dengan sendirinta seakan mengikuti irama alam atau naluri dari gerakan tubuh yang melakukannya sebagai therapy diri sekaligus seni bela diri yang khas sejak jaman lampau yang nyaris punah dan mulai dilupakan oleh banyak orang. Padahal Yoga Raja ini, kata Eko Sriyanto Galgendu yang juga acap disebut sebagai Wali Spiritual Indonesia merupakan bagian dari warisan seni dan budaya para leluhur suku bangsa Nusantara yang asli dan otentik. Hal serupa diamini oleh Setiyo Wibowo yang juga rekatif menguasai seni bela diri warisan para leluhur.

Lalu diskusi informal bersama Joyo Swantoro di Sekretatiat GMRI (Gerakan Moral Rekonsikiasi Indonesia) pada Selasa Petang, 20 Desember 2022 pun terus meluas memasuki pemahaman tentang Trihita Karana — atau Tritangtu Tungga Buana — seperti yang juga dikembangkan oleh Prabu Siliwangi tentang Tuhan, manusia serta alam. Tampaknya, inilah bentuk dari kelercayaan dalam agama asli yang disebut Sunda Wiwitan itu — seperti yang tetus dilestarikan oleh Pangeran Jatikusumo — adanya keyakinan dari keterkaitan antara Tuhan. Manusia serta Alam. Demikian pula sebaliknya, penghargaan manusia terhadap alam itu busa dipahami sebagai penghargaan atau penghormatan manusia terhadap Tughan.

Dalam jabaran pemahaman yang diajarkan oleh Prabu Siliwangi, kata Eko Sriyanto Galgendu. Itulah yang dimakdud dari Trutangtu Dibuana. Manifestasinya pada jaman Mataram Islam tertuang dalam gelar yang harus dijunjung tinggi, seperti gelar yang menempel pada nama Paku Alam, Paku Buwono, Hamengku Buwono, Mangkubumi dan seterusnya yang patut diketahui sekaligus dipahami, karena tugas pokok seorang pemimpin tidak hanya harus bertanggung sebagai kepala negara, tetapi juga harus dan wajib bertabggungjawab terhadap alam jagat dan seisinya.

Karena itu, sikap mengeksploitasi alam bukan hanya pengkhianatan terhadap konstitusi negara, tapi juga alam seperti termaktub pada pasal 33 UUD 1945 tentang bumi, air dan segenap isi perut bumi. Bahkan, idealnya untuk seorang pemimpin itu tidak harus dekat dengan rakyat, tetapi harus dekat dengan alam. Ibarat pendekar yang sudah matang, gerakan dan nalurinya sudah senapas dengan gerakan pedang yang ditebaskannya.

Maka itu, pemimpin yang sejati itu tidak mungkin khianat terhadap rakyat, tetapi juga tidak durhaka kepada konstitusi serta pandangan hidup maupun ideologi negara Indonesia, yaitu Pancasila. Sedangkan realitasnya ideologi negara itu pun cuma dijadikan asesoris bahkan senjata untuk menyerang atau menstigma suatu pihak yang dianggap musuh atau bahkan siapa saja yang dirasa atau dianggap menjadi pesaing dalam banyal hal, termasuk jabatan atau siapa saja yang dianggap jadi penghalang untuk melancarkan niat busuknya.

Begitulah, resume dari diskusi informal ini pula patut dan perlu dipaparkan kepada mereka yang zalim, tidak punya etika, tidak punya moral dan tidak punya akhlak mulia sebagai manusia yang dipertegas oleh Tuhan sebagai khalifah Allah di muka bumi. Tapi realitasnya mereka yang khianat itu, tidak memiliki etika dan moral serta akhlak mulia itu adalah manusia pintar, jenius, namun bermoral buruk dan bermental busuk.